Wednesday, August 23, 2017

Rekomendasi IPB dalam Pengendalian Wereng Batang Cokelat

23 Agustus 2017

Serangan hama wereng berupa tanaman seperti terbakar

Pengamatan secara langsung di lapangan yang dilakukan melalui kegiatan klinik tanaman IPB sejak bulan Februari hingga Juli tahun 2017 menghasilkan temuan sebagai berikut:


  1. Ledakan wereng batang cokelat (WBC), penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput di sentra-sentra produksi padi terjadi minimal di 30 kabupaten di Jawa, Bali dan Lampung.  Pada banyak tempat serangan WBC dan kejadian penyakit kerdil rumpul dan kerdil hampa yang disebabkan oleh virus telah berlangsung selama 2-4 musim tanam padi.  Cakupan daerah serangan WBC, penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa yang ditularkan oleh WBC pada tahun 2017 lebih luas dari tahun 2010.
  2. Serangan berat WBC dan virus kerdil terjadi pada daerah yang melakukan tiga kali penanaman padi dalam setahun.
  3. Berbeda dengan ledakan WBC tahun 2010-2011, yang mana ledakan juga dialami oleh negara lain seperti Thailand dan Vietnam, ledakan WBC tahun 2017 hanya terjadi di Indonesia
  4. Pengetahuan petani tentang wereng batang cokelat dan penyakit kerdil hampa/kerdil rumput sangat terbatas.  Hampir 100% petani tidak tahu tentang gejala, penularan, sifat-sifat penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput serta kaitannya dengan WBC
  5. Permasalahan pestisida berkaitan dengan pertanaman padi sangat memprihatinkan: a) sebanyak 70% petani padi di Pulau Jawa menggunakan beberapa insektisida yang dilarang untuk padi, b) hampir semua petugas pertanian yang ada tidak tahu tentang insektisida yang dilarang untuk padi, c) adanya promosi pestisida yang dilarang untuk padi dan d) banyak petani tidak faham penggunaan pestisida yang baik dan benar.
  6. Sistem pengamatan hama dan penyakit padi tidak mampu mendeteksi potensi ledakan hama/penyakit karena kelemahan metodologi dan konsistensi penerapannya.


IPB mengidentifikasi penyebab ledakan WBC tahun 2017 adalah interaksi dari
  • iklim yang cukup basah pada tahun 2017 (kemarau basah)
  • penanaman padi yang terus menerus tanpa jeda
  • intensitas penggunaan insektisida yang tinggi (8-12 aplikasi per musim) oleh petani dan beberapa insektisida yang digunakan merupakan golongan insektisida dilarang untuk padi


Berdasarkan permasalahan tersebut, direkomendasikan upaya-upaya berikut:

  1. Menerapkan secara konsisten sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dalam pengendalian hama penyakit padi sesuai dengan Inpres no 3/1986, UU 12/1992 dan PP no 6/1995.
  2. Melakukan jeda penanaman satu musim sehingga dalam satu hamparan dihindarkan adanya tanaman padi secara terus menerus.
  3. Memusnahkan tanaman yang terserang virus kerdil hampa dan kerdil rumput karena berpotensi menjadi sumber penyakit pada musim berikutnya.
  4. Memperbarui sistem pengamatan hama dan penyakit padi sehingga memenuhi prinsip cepat, akurat, obyektif dan efisien, sehingga dapat dijadikan dasar yang tepat untuk mengambil tindakan pengendalian.
  5. Meningkatkan kapasitas SDM pertanian, baik petani, POPT, PPL dan staf Dinas terkait dengan pengetahuan mereka terhadap WBC, virus kerdil hampa/kerdil rumput, pestisida dan penggunaannya pada tanaman padi.  Khususnya untuk petani, pola SLPHT dapat didorong kembali keberadaanya dan lebih diperkuat.
  6. Membenahi distribusi, promosi dan penggunaan serta pengawasan pestisida untuk tanaman padi
  7. Menerapkan teknologi pengendalian yang memperkuat ketahanan agroekosistem, diantaranya pengembalian jerami, penggunaan agens hayati dan mengurangi penggunaan insektisida


Tim Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB
Prof. Dr. Aunu Rauf
Prof. Dr. Dadang
Dr. Hermanu Triwidodo
Prof. Dr. Sri Hendrastuti Hidayat
Dr. Suryo Wiyono
Dr. Widodo

-end-



0 comments:

Post a Comment